Menginap di KBRI
Menulis adalah sebuah keberanian, begitu kata Pramoedya Ananta Toer
Kata - kata itu cocok buat saya, mengapa begitu? Pertama karena saya memang tidak ahli dalam menulis, kedua karena saya ingin menulis tentang hal yang tidak mengenakkan yang saya alami. Karena judulnya "Menginap di KBRI" saya akan kaitkan kejadiannya, saya penyuka traveling alias jalan - jalan, dan pasti saya juga mempunyai bucketlist yang ingin saya lakukan, salah satunya adalah menginap di KBRI entah bagaimana caranya saya pun tidak tau, hanya karena saya sering membaca tulisan - tulisan para traveler tentang pengalaman mereka yang memang sengaja diundang dan menginap di KBRI di negara tertentu, tapi siapakah saya yang berharap diundang ke KBRI ekekek... Tapi pada Januari 2019 saya benar - benar menginap di KBRI tepatnya di Madrid, Spanyol. Mengapa saya bisa mendapat kesempatan untuk menginap di KBRI Spanyol? Apakah saya kenal dengan Dubes kita di Spanyol? Tentu tidaaakk.. Hal ini terjadi karena ceritanya saya kecopetan di Spanyol! Kecopetan! Ini kata - kata yang paling menyeramkan di benak saya ketika traveling lalu kecopetan dan saya mengalami hal itu, sore itu di depan Sagrada de Familia - Barcelona, Spain, saya sedang berada di taman depan bangunan megah Sagrada de Familia yang terkenal itu, tiba -tiba keadaan taman yang tadinya sepi jadi ramai dengan hadirnya turis - turis yang ingin berfoto dan ada juga yang minta tolong ke teman saya untuk mengambil foto, pada saat teman saya sedang mengambil foto menggunakan kamera si turis tiba - tiba tas yang saya taruh di pundak ditarik oleh salah satu dari kerumunan yang saya kira turis tadi, saya langsung berteriak minta tolong, lalu saya sadar mereka tidak tau arti tolong, saya teriak lagi "my bag has stolen" berkali - kali, dan entah mereka paham atau tidak mereka hanya bilang sorry dan mengernyitkan dahi seolah iba. Teman saya berusaha melacak siapa yang mencopet tas saya tapi pelaku di sana sangatlah profesional, tidak ada dari mereka yang lari satupun layaknya di film - film. Setelah beberapa detik saya sadar bahwa tas saya benar - benar hilang, seketika badan saya dingin, pusing dan memikirkan lelahnya mengurus surat - surat kehilangan dan sebagainya, padahal esok harinya saya ada jadwal terbang ke negara lain tepatnya ke Ceko yang saya sudah beli tiketnya dan saya ingat paspor saya dan paspor teman saya ada di dalam tas itu, ah lengkap lah.. Pasport, uang tunai, kartu kredit, handphone ada di dalam tas itu, bahkan lipstik baru saya . Saya ingin sekali menangis duduk di pojokan tapi untung saya ingat ada hal yang masih bisa saya selamatkan yaitu kartu kredit yang ikut dicuri, saya pinjam handphone teman saya untuk menghubungi ayah saya di Indonesia menggunakan whatsapp call, saat itu pukul 4:30 sore di Barcelona berati di Indonesia kira - kira pukul 10:30 malam oke lah pasti ayah saya belum tidur. Ayah saya langsung telpon 2 bank kartu kredit saya tanpa menyebutkan nomor kartu nya, ya kan siapa yang catat nomor kartu kredit. Ternyata untuk proses blokir cukup dengan identitas nama lengkap dan tanggal lahir langsung bisa diblokir, mantap! Saya sedikit lega karena kehilangan bisa diminimalisir. Mengapa saya merasa harus cepat bertindak untuk blokir kartu kredit saya, karena konon katanya kartu kredit kita bisa digunakan untuk pembelian di metro atau sebutannya MRT kalau di Jakarta. Ah, paling dipakai untuk beli tiket dengan harga tidak seberapa, eitss jangan salah, maling disana sudah jago, seorang teman pernah bercerita bahwa kartu kreditnya yang hilang di negara Eropa sudah digunakan untuk membeli tiket kereta sebesar 19juta an! Waw! Hebat juga maling nya gesek sampai tangan pegel. Setelah selesai urusan blokir saya mencari polisi terdekat yang sedang bertugas dan menanyakan di mana kantor polisi terdekat, saya menuju kantor polisi terdekat sambil mengecek semua tempat sampah yang saya lewatin haha! Saya diberitahu oleh polisi bertugas tadi biasanya pencuri akan ambil isi tas kita dan akan membuang tas kita ke tempat sampah, saya hanya berharap menemukan tas saya beirisi paspor saya dan paspor teman saya, karena kehilangan paspor sangat merepotkan. Setelah saya korek - korek itu tempat sampah macam benar aja, tetap saja saya tidak menemukan, tapi memang benar di tempat sampah ada beberapa tas milik orang lain yang saya lihat.
Tiba di kantor polisi pukul 5:30 sore saya duduk menunggu giliran sambil bertanya kepada orang asing yang sedang menanti giliran, saya bertanya apa masalah mereka dan hampir semua menjawab kecopetan astaga.. Tiba giliran saya, polisi berbahasa Spanyol tidak mengerti apa yang saya alami lalu dicarikanlah polisi wanita berbahasa Inggris, dia memberikan kertas untuk kita isi apa saja yang telah terjadi dan barang apa yang hilang. Ada pertanyaan apa brand / merek tas anda yang hilang, saya merasa beruntung saya tidak pernah memakai tas merek mahal untuk traveling (baca : memang tidak punya, maklum rakyat biasa) sempat merasa bahagia karena itu, coba bayangkan jika tas yang saya pakai harganya puluhan juta dan handphone saya keluaran terbaru, tambah frustasi lah saya. Setelah selesai saya memberikan kertas saya kepada polisi wanita tersebut dan dia menepuk pundak saya sambil mengatakan "I hope you okay" , dengan langkah lemas saya kembali ke hotel sambil korek - korek tempat sampah lagi ekekek ternyata tempat sampah di Barcelona itu akan diangkut tiap beberapa jam, jadi beberapa tempat sampah benar - benar kosong, petugas kebersihan akan mengangkut sampah, jika ada tas / paspor ditemukan akan diberikan ke pihak kepolisian lalu pihak kepolisian akan memberikan ke hotel tempat kita menginap, semua data sudah saya berikan ke pihak kepolisian.
Tiba di hotel saya minta kunci hotel baru kepada resepsionis hotel lalu saya bercerita karena kunci hotel saya ikutan hilang akibat kejadian tadi, lalu resepsionis mengatakan "sorry" kepada saya, kadang saya berpikir memang hanya kata sorry yang saya butuhkan saat itu, saya memang sedang tidak ingin menceritakan kejadiannya kepada siapapun saat itu saking traumanya saya, dan resepsionis hotel pun tidak menanyakan bagaimana kejadiannya sampai dia menghibur saya dengan bercerita bahwa dia pun pernah dijambret pagi - pagi ketika jalan kaki ke hotel, pencopet nya mengambil isi tas dan membuangnya begitu saja di depan muka resepsionis saya, lalu beberapa menit kemudian dia bercerita bertemu dengan pencopetnya lagi di jalan, karena dia hafal mukanya dengan cepat resepsionis itu menghampiri dan memukuli si pencopet meskipun tidak mendapatkan barangnya kembali tapi dia puas bisa memukuli si pencopet dan itu menjadi senyuman pertama saya sejak kecopetan haha! oh, resepsionisnya wanita dengan badan kekar tinggi namanya Karina, dia bekerja di hotel Teatre di Auditori, Barcelona. Bayangkan dia memukuli si pencuri itu dengan badan kekar nya.. Karina membantu saya untuk cetak ulang visa schengen dan copy paspor yang saya punya, dia membantu mencarikan informasi KBRI terdekat dan langsung lemas lah saya ketika KBRI di Spanyol itu adanya di kota Madrid, ya iyalah yaa ibu kota Spanyol kan Madrid bukan Barcelona. Hari itu hari Sabtu berati besok Minggu kebayang kan harus tunda 1 hari karena KBRI pasti libur di hari Minggu. Jarak Barcelona ke Madrid dengan menggunakan jalur darat seperti kereta adalah 7 jam, aduh! Mengapa saya berpikir kereta karena saya sadar jika naik pesawat tanpa paspor apalah artinya saya, mau serahin KTP pun ga akan paham petugasnya. Tapi Karina memberikan info jika kita bisa memberikan copy paspor dan copy visa Schengen maka kita masih bisa terbang karena Barcelona dan Madrid merupakan 1 negara yaitu Spanyol baiklah agak lega saya bisa menghemat waktu ke Madrid menggunakan pesawat, tidak kebayang harus 7 jam perjalanan dan balik lagi ke Barcelona 7 jam perjalanan lagi jika menggunakan kereta. Setelah mengobrol dengan Karina malam itu saya mengatakan kepada dia bahwa saya sangat terhibur dengan percakapan ini, lalu saya kembali ke kamar untuk istirahat, kembali di kamar seorang diri membuat saya jadi sakit hati lagi mengingat kejadian tersebut, melihat dampaknya yang begitu merepotkan hingga saya harus membatalkan perjalanan yang seharusnya besok pagi saya ke Ceko tapi malah harus ke Madrid mengurus kehilangan paspor. Saya ingat kata - kata tante saya jika kita kehilangan sesuatu bacalah doa kehilangan yang ada di buku panduan doa, karena saya bukan orang yang religius saya pun tidak membawa buku panduan doa itu, tidak hilang akal saya pinjam handphone teman saya dan mulai googling doa tersebut, sebelum membaca saya mengira doa tersebut akan membantu menemukan arang yang hilang atau tiba - tiba besok saya korek sampah lagi eeh ketemu tas dan paspor saya, bisa jadi tidak perlu ke Madrid kan. Ternyata hidup tidak semudah itu, sepenggal doa tersebut berbunyi "Setidaknya pulihkanlah dalam diriku pikiran damai dan tenang, kehilangan yang lebih menyiksaku dari kehilangan barang meteriilku" .... "Lebih baik aku kehilangan segala barang materiil daripada kehilangan Allah, kebaikan tertinggi.. Jangan biarkan aku menderita kehilangan harta pusakaku yang terbesar yakni hidup abadi bersama Allah" wow! saat itu saya baru bisa menangis bukan karena sedih karena malu berharap setelah doa lalu barang bisa kembali layaknya sulap haha karena kehilangan barang bukanlah hal yang besar dibanding yang lain, sungguh begitulah doa itu menguatkan saya, lalu saya tidur dan besok pagi bangun dengan linglung karena tidak punya handphone dan uang, masih sempat menyalahkan diri saya atas kejadian kemarin, tapi tidak lama saya ingat doa itu lagi lalu saya bangkit cuci muka dan menyambut hari itu dengan mengubah pikiran saya bahwa traveling ini harus diakhiri dengan gembira, ikhlas dan pembelajaran hidup. Lalu saya memutuskan untuk bahagia pergi ke Madrid dan anggap saja memang saya berlibur ke Madrid meskipun diluar rencana, dan kebetulan saya belum pernah ke Madrid sebelumnya, mungkin dari kalian yang mengalami hal serupa kalian akan tidak mood lagi untuk melanjutkan traveling bahkan memutuskan untuk pulang ke tanah air lebih awal, well saya tidak mau rugi 2x untuk hal ini, sudah kehilangan barang lalu kehilangan mood untuk melanjutkan traveling. Saya pergi ke bandara Barcelona dengan percaya diri mencari - cari jadwal penerbangan tercepat ke Madrid hari itu, setelah menanyakan beberapa konter maskapai dan semuanya menyatakan bahwa saya harus punya paspor dan visa asli untuk terbang meskipun penerbangan masih antar kota kecuali saya adalah warga negara Eropa, astaga perjalanan ini belum berakhir ternyata.. Saya sempat frustasi membayangkan 7 jam naik kereta ke Madrid, setelah saya keliling bandara Barcelona akhirnya saya berdiskusi dengan maskapai yang sedikit mau membantu saya, staff mereka menghubungi atasannya dengan mengatakan alasan saya harus ke Madrid, lalu atasannya rupanya memberikan pengecualian kepada saya dan teman saya, thanks to maskapai IBERIA, I will remember your kindness! dengan membawa tiket Iberia saya terbang dari Barcelona ke Madrid, saya tidak pesan hotel sama sekali di Madrid, saya sempat melihat situs pemesanan hotel yang dekat dengan KBRI sekitar 800ribu per malam, okelah saya pikir, tiba di Madrid saya langsung menuju ke KBRI, entah mengapa saya punya pikiran seperitu itu, padahal hari itu adalah Minggu malam. Ketika sampai di depan gerbang KBRI, hati saya tiba - tiba tenang melihat lambang Garuda di depan KBRI ahhh Indonesia! Malam itu jam 7 malam, saya pencet bell untuk berbicara dengan orang yang didalam KBRI, layaknya kantor kedutaan, pintu mereka rata - rata terbuat dari besi dan tidak bisa dibuka dari luar. Lalu saya mulai berbicara di alat dekat pintu gerbang tersebut "Hola" kata saya menyapa, lalu pria di dalam membalas "halo" saya kira pria itu bercanda main tebak kata terbalik "hola-halo" eh gimana sih ini, saya tersenyum ini kan KBRI yah kenapa saya menyapa Hola ala bahasa Spanyol, ternyata penjaga tersebut orang Indonesia, setelah bercerita singkat maksud kedatangan saya, lalu saya dibukakan pintu.. wahh akhirnya saya masuk ke KBRI, melihat ornamen khas Indonesia dan foto presiden dan wakil presiden kita membuat saya makin tenang. Lalu saya berbicara dengan penjaga yang namannya bang Ipul - goyang bang.. Bang Ipul menghubungi petugas pembuat paspor sementara yang saat itu sedang diluar kota bersama keluarganya. Karena saya juga baru tau ketika paspor hilang di luar negeri hal pertama yang harus kita lakukan adalah pergi ke kantor polisi terdekat untuk dibuatkan surat kehilangan, lalu surat tersebut dibawa ke KBRI yang berada dalam 1 negara tersebut, sebelumnya saya berpikir untuk melapor ke polisi Barcelona lalu meminta paspor pengganti ke KBRI di Ceko karena jadwal saya adalah pergi ke Ceko, ternyata tidak bisa seperti itu. Saya mengatakan ke Bang Ipul, bahwa saya tidak masalah jika dibuatkan paspor pengganti keesokan harinya yaitu hari Senin. Lalu ada 2 orang pria datang di halaman KBRI dengan menggunakan mobil hitam, kedua pria tersebut mengenakan kemeja batik dan menyapa saya untuk bertanya apakah ada yang bisa mereka bantu, mereka mengatakan bahwa petugas paspor akan membantu membuatkan paspor pengganti meskipun hari Minggu karena memang setiap hari ada petugas piket yang siap membantu membuatkan paspor pengganti untuk WNI yang kehilangan paspor, mantap Indonesia! Sambil menunggu si petugas datang saya basa - basi bertanya apakah ada hotel di sekitar sini, mereka menjawab tidak banyak hotel di sekitar sini, salah satunya hotel yang tadi sempat saya cek harga nya di situs pemesanan. Mereka pun menawarkan "kita ada kamar tamu di KBRI jika ingin menginap" uhuk - uhuk dalam hati saya tersenyum tapi saya harus jaga raut muka agar terlihat kaget ditawarin menginap "ohh ya? wah boleh sekali" kata saya, dia menjawab "tapi keadaan kamarnya ala kadarnya yah" aahh tentu sangat tidak masalah buat saya, selain menghemat 800ribu hal lain yang saya dapat adalah pengalaman menginap di KBRI yang merupakan keinginan saya, meskipun saya mengharapnya tidak dengan kecopetan juga sih! Kedua pria tersebut adalah pria muda yang tampak pintar untuk bekerja di KBRI, mereka bercerita bahwa tiap minggu ada saja WNI ke KBRI Spanyol karena kehilangan paspor di tempat yang persis dengan lokasi saya kecopetan, gila yah negara Eropa yang lebih maju dari kita tapi polisi setempat belum bisa mengatasi hal seperti ini. Jam 9 malam petugas pembuat paspor saya datang, saya berterimakasih kepada beliau karena masih mau bertugas di hari Minggu malam. Dilakukanlah pengambilan foto untuk paspor baru saya, di ruangan beliau diputar lagu - lagu pop Indonesia jaman dulu. Setelah paspor pengganti jadi beliau memanggil kami menyerahkan paspor pengganti yang sering dikenal sebagai SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor) bentuknya sangat mirip Paspor hanya lebih tipis dan hanya berlaku 1 tahun, dengan SPLP ini saya bisa terbang melintasi negara dan pulang ke Indonesia. Tidak bisa untuk pergi dari Indonesia ke negara lain, karena tujuannya adalah memulangkan kita ke negara asal. Jadi tiba di Indonesia saya harus membuat paspor baru di kantor Imigrasi, dengan adanya SPLP kita tidak perlu pergi ke Kemenkumham untuk disetujui membuat paspor baru, karena bisa saja kan kamu buronan negara sengaja operasi plastik ganti wajah lalu mau kabur dengan berdusta bahwa paspor kamu hilang lalu ingin membuat paspor baru, hey tidak bisa seperti itu, sahabat!
Dengan hati tenang saya tidur malam di kamar tamu KBRI tersebut, keesokan paginya saya berjalan - jalan keliling kota Madrid sebelum ke bandara untuk kembali ke Paris, saya sempat mengecek penerbangan dari Madrid ke Ceko tapi harganya sudah sangat tinggi, dengan berat hati saya membatalkan perjalanan saya ke Ceko, berati saya ada alasan untuk kembali ke Eropa - astaga sombongnya rakyat jelata ini! dan mengunjungi Ceko yang diceritakan sebagai kota tercantik di Eropa. Saya memutuskan untuk kembali ke kota Paris karena di kota itulah pesawat saya akan berangkat ke Indonesia. Tiba di Paris saya mengenakan tas kresek carefour ketika berjalan - jalan, sambil mencari tas baru untuk gaya aja, orang saya udah ga punya apapun untuk dimasukkan kedalam tas. Saya baru sadar ketika kita tidak punya harta yang berati, hidup kita lebih tenang tidak kuatir akan sesuatu dan tidak menaruh curiga ke orang yang mungkin ingin mencopet kita, ternyata itu maksud yang ada di ajaran saya, jika orang miskin lah yang mempunyai kerajaan sorga,haleluyah! Setelah beberapa malam di Paris tibalah saatnya saya pulang ke Indonesia dengan menggunakan SPLP ke bagian imigrasi, melihat pesawat saya dari jendela kaca bandara saya merasa sangat kangen dengan Indonesia dimana udara yang hangat cenderung panas itu haha, karena saat itu di Paris sangat dingin dengan suhu 0 derajat celcius hingga -2 dimalam hari.
Tiba di Indonesia lagi - lagi layaknya orang Indonesia setiap ada masalah pasti ada titik beruntungnya, beruntunglah saya karena memiliki asuransi yang mengcover / mengganti kehilangan. Standar asuransi yang diperlukan untuk pengajuan visa schengen biasanya hanya mengganti kehilangan bagasi pesawat, entah mengapa saat itu saya membeli asuransi asal Denmark dengan biaya yang agak lebih tinggi dari standar asuransi perjalanan, saya hanya berpikir waktu saya ke Paris ketika banyak demonstran melakukan demo terhadap presiden Perancis - Emmanuel Marcron, saya hanya mencari asuransi yang mengganti kejadian akibat terorisme atau huru - hara dan ternyata asuransi ini juga mengganti kehilangan akibat kecopetan, beruntung sekali saya. Dengan melaporkan claim secara online dan sangat mudah sekali prosesnya, saya telah menerima uang ganti dari asuransi tersebut di rekening saya dan nominalnya persis dengan kehilangan saya kira - kira cair sebesar 650 euro sekitar 10 jutaan, lumayan bukan. Nominal tersebut temasuk penggantian tiket yang kita butuhkan untuk perjalanan ke KBRI. Thanks to Worlds Nomads Insurance. Begitu penting asuransi untuk sebuah perjalanan, belilah asuransi yang memang lebih tinggi harganya akan tetapi manfaat yang diganti juga lebih banyak, banyak orang Indonesia yang membeli asuransi perjalanan hanya untuk syarat pengajuan visa schengen saja dengan tidak memikirkan manfaat yang lain.
Sebelumnya saya hanya menceritakan cerita ini ke orang yang dekat dengan saya dan tidak judge-ing ketika saya kehilangan dan terpuruk halah.
Saya tidak pernah menganggap traveling itu mudah - lagipula siapa yang bilang mudah? Traveling yang mudah mungkin dengan menggunakan tur yang tidak pusing memikirkan setiap detail yang diperlukan, dulu saya pernah keliling Eropa dengan tur 7 negara dalam 2 minggu hehe, saya pikir lumayan bagi saya yang belum pernah ke Eropa langsung dapat 7 negara dengan harga yang pasti lebih murah dibandingkan jalan sendiri, isi tur nya tidak lain adalah makan - tidur di bus - tiba di lokasi sebentar lalu tidur di bus lagi dan tiba di negara lain, kebanyakan yang ikut tur ini adalah orang - orang tua yang mungkin terbatas dalam berbagai hal, entah kendala bahasa atau tidak sanggup memikirkan mau menginap di mana dan ke mana saja seperti anak muda pada umumnya yang haus akan pengalaman. Intinya kalo tidak mau repot dan tidak mau banyak resiko ikutlah tur hehe. Ternyata bukan traveling seperti itu yang saya inginkan, meskipun saya harus angkat koper naik turun tangga di stasiun Paris yang entah mengapa tidak ada lift / escalator. Karena itu setelah saya tur Eropa saya memastikan saya harus kembali ke negara - negara yang memang saya ingin lihat lagi dan tentunya lebih santai, karena buat saya traveling seperti ini menjadikan kita lebih banyak cerita yang bisa kita ingat sampai tua - ya kaya gini nih cerita kecopetan wkwkw, dan melatih kita untuk cepat mengambil keputusan dengan tepat, tidak kalah penting pelajaran dari perjalanan saya yang terakhir adalah menjadikan diri lebih ikhlas dan sabar menghadapi kejadian - kejadian tidak enak seperti ini karena Life must go on kan, dan semoga perjalanan saya bisa menjadikan diri saya lebih baik lagi.. Mumpung masih bisa, mumpung masih muda, karena hidup yang sebenarnya adalah ketika kita muda ketika kita masih punya banyak nyali, kelak ketika kita tua kita hanya bisa duduk di bus tur dengan kaki kesakitan jika jalan jauh kan..
Kata - kata itu cocok buat saya, mengapa begitu? Pertama karena saya memang tidak ahli dalam menulis, kedua karena saya ingin menulis tentang hal yang tidak mengenakkan yang saya alami. Karena judulnya "Menginap di KBRI" saya akan kaitkan kejadiannya, saya penyuka traveling alias jalan - jalan, dan pasti saya juga mempunyai bucketlist yang ingin saya lakukan, salah satunya adalah menginap di KBRI entah bagaimana caranya saya pun tidak tau, hanya karena saya sering membaca tulisan - tulisan para traveler tentang pengalaman mereka yang memang sengaja diundang dan menginap di KBRI di negara tertentu, tapi siapakah saya yang berharap diundang ke KBRI ekekek... Tapi pada Januari 2019 saya benar - benar menginap di KBRI tepatnya di Madrid, Spanyol. Mengapa saya bisa mendapat kesempatan untuk menginap di KBRI Spanyol? Apakah saya kenal dengan Dubes kita di Spanyol? Tentu tidaaakk.. Hal ini terjadi karena ceritanya saya kecopetan di Spanyol! Kecopetan! Ini kata - kata yang paling menyeramkan di benak saya ketika traveling lalu kecopetan dan saya mengalami hal itu, sore itu di depan Sagrada de Familia - Barcelona, Spain, saya sedang berada di taman depan bangunan megah Sagrada de Familia yang terkenal itu, tiba -tiba keadaan taman yang tadinya sepi jadi ramai dengan hadirnya turis - turis yang ingin berfoto dan ada juga yang minta tolong ke teman saya untuk mengambil foto, pada saat teman saya sedang mengambil foto menggunakan kamera si turis tiba - tiba tas yang saya taruh di pundak ditarik oleh salah satu dari kerumunan yang saya kira turis tadi, saya langsung berteriak minta tolong, lalu saya sadar mereka tidak tau arti tolong, saya teriak lagi "my bag has stolen" berkali - kali, dan entah mereka paham atau tidak mereka hanya bilang sorry dan mengernyitkan dahi seolah iba. Teman saya berusaha melacak siapa yang mencopet tas saya tapi pelaku di sana sangatlah profesional, tidak ada dari mereka yang lari satupun layaknya di film - film. Setelah beberapa detik saya sadar bahwa tas saya benar - benar hilang, seketika badan saya dingin, pusing dan memikirkan lelahnya mengurus surat - surat kehilangan dan sebagainya, padahal esok harinya saya ada jadwal terbang ke negara lain tepatnya ke Ceko yang saya sudah beli tiketnya dan saya ingat paspor saya dan paspor teman saya ada di dalam tas itu, ah lengkap lah.. Pasport, uang tunai, kartu kredit, handphone ada di dalam tas itu, bahkan lipstik baru saya . Saya ingin sekali menangis duduk di pojokan tapi untung saya ingat ada hal yang masih bisa saya selamatkan yaitu kartu kredit yang ikut dicuri, saya pinjam handphone teman saya untuk menghubungi ayah saya di Indonesia menggunakan whatsapp call, saat itu pukul 4:30 sore di Barcelona berati di Indonesia kira - kira pukul 10:30 malam oke lah pasti ayah saya belum tidur. Ayah saya langsung telpon 2 bank kartu kredit saya tanpa menyebutkan nomor kartu nya, ya kan siapa yang catat nomor kartu kredit. Ternyata untuk proses blokir cukup dengan identitas nama lengkap dan tanggal lahir langsung bisa diblokir, mantap! Saya sedikit lega karena kehilangan bisa diminimalisir. Mengapa saya merasa harus cepat bertindak untuk blokir kartu kredit saya, karena konon katanya kartu kredit kita bisa digunakan untuk pembelian di metro atau sebutannya MRT kalau di Jakarta. Ah, paling dipakai untuk beli tiket dengan harga tidak seberapa, eitss jangan salah, maling disana sudah jago, seorang teman pernah bercerita bahwa kartu kreditnya yang hilang di negara Eropa sudah digunakan untuk membeli tiket kereta sebesar 19juta an! Waw! Hebat juga maling nya gesek sampai tangan pegel. Setelah selesai urusan blokir saya mencari polisi terdekat yang sedang bertugas dan menanyakan di mana kantor polisi terdekat, saya menuju kantor polisi terdekat sambil mengecek semua tempat sampah yang saya lewatin haha! Saya diberitahu oleh polisi bertugas tadi biasanya pencuri akan ambil isi tas kita dan akan membuang tas kita ke tempat sampah, saya hanya berharap menemukan tas saya beirisi paspor saya dan paspor teman saya, karena kehilangan paspor sangat merepotkan. Setelah saya korek - korek itu tempat sampah macam benar aja, tetap saja saya tidak menemukan, tapi memang benar di tempat sampah ada beberapa tas milik orang lain yang saya lihat.
Tiba di kantor polisi pukul 5:30 sore saya duduk menunggu giliran sambil bertanya kepada orang asing yang sedang menanti giliran, saya bertanya apa masalah mereka dan hampir semua menjawab kecopetan astaga.. Tiba giliran saya, polisi berbahasa Spanyol tidak mengerti apa yang saya alami lalu dicarikanlah polisi wanita berbahasa Inggris, dia memberikan kertas untuk kita isi apa saja yang telah terjadi dan barang apa yang hilang. Ada pertanyaan apa brand / merek tas anda yang hilang, saya merasa beruntung saya tidak pernah memakai tas merek mahal untuk traveling (baca : memang tidak punya, maklum rakyat biasa) sempat merasa bahagia karena itu, coba bayangkan jika tas yang saya pakai harganya puluhan juta dan handphone saya keluaran terbaru, tambah frustasi lah saya. Setelah selesai saya memberikan kertas saya kepada polisi wanita tersebut dan dia menepuk pundak saya sambil mengatakan "I hope you okay" , dengan langkah lemas saya kembali ke hotel sambil korek - korek tempat sampah lagi ekekek ternyata tempat sampah di Barcelona itu akan diangkut tiap beberapa jam, jadi beberapa tempat sampah benar - benar kosong, petugas kebersihan akan mengangkut sampah, jika ada tas / paspor ditemukan akan diberikan ke pihak kepolisian lalu pihak kepolisian akan memberikan ke hotel tempat kita menginap, semua data sudah saya berikan ke pihak kepolisian.
Tiba di hotel saya minta kunci hotel baru kepada resepsionis hotel lalu saya bercerita karena kunci hotel saya ikutan hilang akibat kejadian tadi, lalu resepsionis mengatakan "sorry" kepada saya, kadang saya berpikir memang hanya kata sorry yang saya butuhkan saat itu, saya memang sedang tidak ingin menceritakan kejadiannya kepada siapapun saat itu saking traumanya saya, dan resepsionis hotel pun tidak menanyakan bagaimana kejadiannya sampai dia menghibur saya dengan bercerita bahwa dia pun pernah dijambret pagi - pagi ketika jalan kaki ke hotel, pencopet nya mengambil isi tas dan membuangnya begitu saja di depan muka resepsionis saya, lalu beberapa menit kemudian dia bercerita bertemu dengan pencopetnya lagi di jalan, karena dia hafal mukanya dengan cepat resepsionis itu menghampiri dan memukuli si pencopet meskipun tidak mendapatkan barangnya kembali tapi dia puas bisa memukuli si pencopet dan itu menjadi senyuman pertama saya sejak kecopetan haha! oh, resepsionisnya wanita dengan badan kekar tinggi namanya Karina, dia bekerja di hotel Teatre di Auditori, Barcelona. Bayangkan dia memukuli si pencuri itu dengan badan kekar nya.. Karina membantu saya untuk cetak ulang visa schengen dan copy paspor yang saya punya, dia membantu mencarikan informasi KBRI terdekat dan langsung lemas lah saya ketika KBRI di Spanyol itu adanya di kota Madrid, ya iyalah yaa ibu kota Spanyol kan Madrid bukan Barcelona. Hari itu hari Sabtu berati besok Minggu kebayang kan harus tunda 1 hari karena KBRI pasti libur di hari Minggu. Jarak Barcelona ke Madrid dengan menggunakan jalur darat seperti kereta adalah 7 jam, aduh! Mengapa saya berpikir kereta karena saya sadar jika naik pesawat tanpa paspor apalah artinya saya, mau serahin KTP pun ga akan paham petugasnya. Tapi Karina memberikan info jika kita bisa memberikan copy paspor dan copy visa Schengen maka kita masih bisa terbang karena Barcelona dan Madrid merupakan 1 negara yaitu Spanyol baiklah agak lega saya bisa menghemat waktu ke Madrid menggunakan pesawat, tidak kebayang harus 7 jam perjalanan dan balik lagi ke Barcelona 7 jam perjalanan lagi jika menggunakan kereta. Setelah mengobrol dengan Karina malam itu saya mengatakan kepada dia bahwa saya sangat terhibur dengan percakapan ini, lalu saya kembali ke kamar untuk istirahat, kembali di kamar seorang diri membuat saya jadi sakit hati lagi mengingat kejadian tersebut, melihat dampaknya yang begitu merepotkan hingga saya harus membatalkan perjalanan yang seharusnya besok pagi saya ke Ceko tapi malah harus ke Madrid mengurus kehilangan paspor. Saya ingat kata - kata tante saya jika kita kehilangan sesuatu bacalah doa kehilangan yang ada di buku panduan doa, karena saya bukan orang yang religius saya pun tidak membawa buku panduan doa itu, tidak hilang akal saya pinjam handphone teman saya dan mulai googling doa tersebut, sebelum membaca saya mengira doa tersebut akan membantu menemukan arang yang hilang atau tiba - tiba besok saya korek sampah lagi eeh ketemu tas dan paspor saya, bisa jadi tidak perlu ke Madrid kan. Ternyata hidup tidak semudah itu, sepenggal doa tersebut berbunyi "Setidaknya pulihkanlah dalam diriku pikiran damai dan tenang, kehilangan yang lebih menyiksaku dari kehilangan barang meteriilku" .... "Lebih baik aku kehilangan segala barang materiil daripada kehilangan Allah, kebaikan tertinggi.. Jangan biarkan aku menderita kehilangan harta pusakaku yang terbesar yakni hidup abadi bersama Allah" wow! saat itu saya baru bisa menangis bukan karena sedih karena malu berharap setelah doa lalu barang bisa kembali layaknya sulap haha karena kehilangan barang bukanlah hal yang besar dibanding yang lain, sungguh begitulah doa itu menguatkan saya, lalu saya tidur dan besok pagi bangun dengan linglung karena tidak punya handphone dan uang, masih sempat menyalahkan diri saya atas kejadian kemarin, tapi tidak lama saya ingat doa itu lagi lalu saya bangkit cuci muka dan menyambut hari itu dengan mengubah pikiran saya bahwa traveling ini harus diakhiri dengan gembira, ikhlas dan pembelajaran hidup. Lalu saya memutuskan untuk bahagia pergi ke Madrid dan anggap saja memang saya berlibur ke Madrid meskipun diluar rencana, dan kebetulan saya belum pernah ke Madrid sebelumnya, mungkin dari kalian yang mengalami hal serupa kalian akan tidak mood lagi untuk melanjutkan traveling bahkan memutuskan untuk pulang ke tanah air lebih awal, well saya tidak mau rugi 2x untuk hal ini, sudah kehilangan barang lalu kehilangan mood untuk melanjutkan traveling. Saya pergi ke bandara Barcelona dengan percaya diri mencari - cari jadwal penerbangan tercepat ke Madrid hari itu, setelah menanyakan beberapa konter maskapai dan semuanya menyatakan bahwa saya harus punya paspor dan visa asli untuk terbang meskipun penerbangan masih antar kota kecuali saya adalah warga negara Eropa, astaga perjalanan ini belum berakhir ternyata.. Saya sempat frustasi membayangkan 7 jam naik kereta ke Madrid, setelah saya keliling bandara Barcelona akhirnya saya berdiskusi dengan maskapai yang sedikit mau membantu saya, staff mereka menghubungi atasannya dengan mengatakan alasan saya harus ke Madrid, lalu atasannya rupanya memberikan pengecualian kepada saya dan teman saya, thanks to maskapai IBERIA, I will remember your kindness! dengan membawa tiket Iberia saya terbang dari Barcelona ke Madrid, saya tidak pesan hotel sama sekali di Madrid, saya sempat melihat situs pemesanan hotel yang dekat dengan KBRI sekitar 800ribu per malam, okelah saya pikir, tiba di Madrid saya langsung menuju ke KBRI, entah mengapa saya punya pikiran seperitu itu, padahal hari itu adalah Minggu malam. Ketika sampai di depan gerbang KBRI, hati saya tiba - tiba tenang melihat lambang Garuda di depan KBRI ahhh Indonesia! Malam itu jam 7 malam, saya pencet bell untuk berbicara dengan orang yang didalam KBRI, layaknya kantor kedutaan, pintu mereka rata - rata terbuat dari besi dan tidak bisa dibuka dari luar. Lalu saya mulai berbicara di alat dekat pintu gerbang tersebut "Hola" kata saya menyapa, lalu pria di dalam membalas "halo" saya kira pria itu bercanda main tebak kata terbalik "hola-halo" eh gimana sih ini, saya tersenyum ini kan KBRI yah kenapa saya menyapa Hola ala bahasa Spanyol, ternyata penjaga tersebut orang Indonesia, setelah bercerita singkat maksud kedatangan saya, lalu saya dibukakan pintu.. wahh akhirnya saya masuk ke KBRI, melihat ornamen khas Indonesia dan foto presiden dan wakil presiden kita membuat saya makin tenang. Lalu saya berbicara dengan penjaga yang namannya bang Ipul - goyang bang.. Bang Ipul menghubungi petugas pembuat paspor sementara yang saat itu sedang diluar kota bersama keluarganya. Karena saya juga baru tau ketika paspor hilang di luar negeri hal pertama yang harus kita lakukan adalah pergi ke kantor polisi terdekat untuk dibuatkan surat kehilangan, lalu surat tersebut dibawa ke KBRI yang berada dalam 1 negara tersebut, sebelumnya saya berpikir untuk melapor ke polisi Barcelona lalu meminta paspor pengganti ke KBRI di Ceko karena jadwal saya adalah pergi ke Ceko, ternyata tidak bisa seperti itu. Saya mengatakan ke Bang Ipul, bahwa saya tidak masalah jika dibuatkan paspor pengganti keesokan harinya yaitu hari Senin. Lalu ada 2 orang pria datang di halaman KBRI dengan menggunakan mobil hitam, kedua pria tersebut mengenakan kemeja batik dan menyapa saya untuk bertanya apakah ada yang bisa mereka bantu, mereka mengatakan bahwa petugas paspor akan membantu membuatkan paspor pengganti meskipun hari Minggu karena memang setiap hari ada petugas piket yang siap membantu membuatkan paspor pengganti untuk WNI yang kehilangan paspor, mantap Indonesia! Sambil menunggu si petugas datang saya basa - basi bertanya apakah ada hotel di sekitar sini, mereka menjawab tidak banyak hotel di sekitar sini, salah satunya hotel yang tadi sempat saya cek harga nya di situs pemesanan. Mereka pun menawarkan "kita ada kamar tamu di KBRI jika ingin menginap" uhuk - uhuk dalam hati saya tersenyum tapi saya harus jaga raut muka agar terlihat kaget ditawarin menginap "ohh ya? wah boleh sekali" kata saya, dia menjawab "tapi keadaan kamarnya ala kadarnya yah" aahh tentu sangat tidak masalah buat saya, selain menghemat 800ribu hal lain yang saya dapat adalah pengalaman menginap di KBRI yang merupakan keinginan saya, meskipun saya mengharapnya tidak dengan kecopetan juga sih! Kedua pria tersebut adalah pria muda yang tampak pintar untuk bekerja di KBRI, mereka bercerita bahwa tiap minggu ada saja WNI ke KBRI Spanyol karena kehilangan paspor di tempat yang persis dengan lokasi saya kecopetan, gila yah negara Eropa yang lebih maju dari kita tapi polisi setempat belum bisa mengatasi hal seperti ini. Jam 9 malam petugas pembuat paspor saya datang, saya berterimakasih kepada beliau karena masih mau bertugas di hari Minggu malam. Dilakukanlah pengambilan foto untuk paspor baru saya, di ruangan beliau diputar lagu - lagu pop Indonesia jaman dulu. Setelah paspor pengganti jadi beliau memanggil kami menyerahkan paspor pengganti yang sering dikenal sebagai SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor) bentuknya sangat mirip Paspor hanya lebih tipis dan hanya berlaku 1 tahun, dengan SPLP ini saya bisa terbang melintasi negara dan pulang ke Indonesia. Tidak bisa untuk pergi dari Indonesia ke negara lain, karena tujuannya adalah memulangkan kita ke negara asal. Jadi tiba di Indonesia saya harus membuat paspor baru di kantor Imigrasi, dengan adanya SPLP kita tidak perlu pergi ke Kemenkumham untuk disetujui membuat paspor baru, karena bisa saja kan kamu buronan negara sengaja operasi plastik ganti wajah lalu mau kabur dengan berdusta bahwa paspor kamu hilang lalu ingin membuat paspor baru, hey tidak bisa seperti itu, sahabat!
![]() |
| Penampakan SPLP |
![]() |
| Issued nya di KBRI Madrid |
Dengan hati tenang saya tidur malam di kamar tamu KBRI tersebut, keesokan paginya saya berjalan - jalan keliling kota Madrid sebelum ke bandara untuk kembali ke Paris, saya sempat mengecek penerbangan dari Madrid ke Ceko tapi harganya sudah sangat tinggi, dengan berat hati saya membatalkan perjalanan saya ke Ceko, berati saya ada alasan untuk kembali ke Eropa - astaga sombongnya rakyat jelata ini! dan mengunjungi Ceko yang diceritakan sebagai kota tercantik di Eropa. Saya memutuskan untuk kembali ke kota Paris karena di kota itulah pesawat saya akan berangkat ke Indonesia. Tiba di Paris saya mengenakan tas kresek carefour ketika berjalan - jalan, sambil mencari tas baru untuk gaya aja, orang saya udah ga punya apapun untuk dimasukkan kedalam tas. Saya baru sadar ketika kita tidak punya harta yang berati, hidup kita lebih tenang tidak kuatir akan sesuatu dan tidak menaruh curiga ke orang yang mungkin ingin mencopet kita, ternyata itu maksud yang ada di ajaran saya, jika orang miskin lah yang mempunyai kerajaan sorga,haleluyah! Setelah beberapa malam di Paris tibalah saatnya saya pulang ke Indonesia dengan menggunakan SPLP ke bagian imigrasi, melihat pesawat saya dari jendela kaca bandara saya merasa sangat kangen dengan Indonesia dimana udara yang hangat cenderung panas itu haha, karena saat itu di Paris sangat dingin dengan suhu 0 derajat celcius hingga -2 dimalam hari.
Tiba di Indonesia lagi - lagi layaknya orang Indonesia setiap ada masalah pasti ada titik beruntungnya, beruntunglah saya karena memiliki asuransi yang mengcover / mengganti kehilangan. Standar asuransi yang diperlukan untuk pengajuan visa schengen biasanya hanya mengganti kehilangan bagasi pesawat, entah mengapa saat itu saya membeli asuransi asal Denmark dengan biaya yang agak lebih tinggi dari standar asuransi perjalanan, saya hanya berpikir waktu saya ke Paris ketika banyak demonstran melakukan demo terhadap presiden Perancis - Emmanuel Marcron, saya hanya mencari asuransi yang mengganti kejadian akibat terorisme atau huru - hara dan ternyata asuransi ini juga mengganti kehilangan akibat kecopetan, beruntung sekali saya. Dengan melaporkan claim secara online dan sangat mudah sekali prosesnya, saya telah menerima uang ganti dari asuransi tersebut di rekening saya dan nominalnya persis dengan kehilangan saya kira - kira cair sebesar 650 euro sekitar 10 jutaan, lumayan bukan. Nominal tersebut temasuk penggantian tiket yang kita butuhkan untuk perjalanan ke KBRI. Thanks to Worlds Nomads Insurance. Begitu penting asuransi untuk sebuah perjalanan, belilah asuransi yang memang lebih tinggi harganya akan tetapi manfaat yang diganti juga lebih banyak, banyak orang Indonesia yang membeli asuransi perjalanan hanya untuk syarat pengajuan visa schengen saja dengan tidak memikirkan manfaat yang lain.
Sebelumnya saya hanya menceritakan cerita ini ke orang yang dekat dengan saya dan tidak judge-ing ketika saya kehilangan dan terpuruk halah.
Saya tidak pernah menganggap traveling itu mudah - lagipula siapa yang bilang mudah? Traveling yang mudah mungkin dengan menggunakan tur yang tidak pusing memikirkan setiap detail yang diperlukan, dulu saya pernah keliling Eropa dengan tur 7 negara dalam 2 minggu hehe, saya pikir lumayan bagi saya yang belum pernah ke Eropa langsung dapat 7 negara dengan harga yang pasti lebih murah dibandingkan jalan sendiri, isi tur nya tidak lain adalah makan - tidur di bus - tiba di lokasi sebentar lalu tidur di bus lagi dan tiba di negara lain, kebanyakan yang ikut tur ini adalah orang - orang tua yang mungkin terbatas dalam berbagai hal, entah kendala bahasa atau tidak sanggup memikirkan mau menginap di mana dan ke mana saja seperti anak muda pada umumnya yang haus akan pengalaman. Intinya kalo tidak mau repot dan tidak mau banyak resiko ikutlah tur hehe. Ternyata bukan traveling seperti itu yang saya inginkan, meskipun saya harus angkat koper naik turun tangga di stasiun Paris yang entah mengapa tidak ada lift / escalator. Karena itu setelah saya tur Eropa saya memastikan saya harus kembali ke negara - negara yang memang saya ingin lihat lagi dan tentunya lebih santai, karena buat saya traveling seperti ini menjadikan kita lebih banyak cerita yang bisa kita ingat sampai tua - ya kaya gini nih cerita kecopetan wkwkw, dan melatih kita untuk cepat mengambil keputusan dengan tepat, tidak kalah penting pelajaran dari perjalanan saya yang terakhir adalah menjadikan diri lebih ikhlas dan sabar menghadapi kejadian - kejadian tidak enak seperti ini karena Life must go on kan, dan semoga perjalanan saya bisa menjadikan diri saya lebih baik lagi.. Mumpung masih bisa, mumpung masih muda, karena hidup yang sebenarnya adalah ketika kita muda ketika kita masih punya banyak nyali, kelak ketika kita tua kita hanya bisa duduk di bus tur dengan kaki kesakitan jika jalan jauh kan..


Pengalaman yg mahal dan berharga yak Maggie🤗🤗
ReplyDelete